Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Asap Karhutla Kembali, Anak Tetap Sekolah atau di Rumah? Ini Panduan IDAI Berdasarkan ISPU untuk Orang Tua

Ibu memeluk anaknya yang memakai masker di dekat jendela saat kabut asap di luar

Pagi itu langit di luar jendela tampak kekuningan. Bau asap tipis masuk lewat celah ventilasi, dan si kecil sudah bersiap dengan tas sekolahnya. Ayah Bunda pun dihadapkan pada dilema yang sama seperti banyak orang tua lain: apakah anak tetap berangkat sekolah, atau lebih aman belajar dari rumah saja?

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara khusus mengingatkan orang tua untuk melindungi anak-anak dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam konferensi pers mengenai dampak asap karhutla terhadap anak pada Jumat, 16 Oktober 2026, IDAI menyampaikan panduan perlindungan yang bisa langsung dipakai orang tua di rumah.

Asap karhutla bukan sekadar membuat mata perih dan tenggorokan gatal. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa paparan asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta memperburuk kondisi anak yang memiliki asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronis lainnya. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena saluran napas mereka masih berkembang dan mereka lebih banyak menghirup udara per berat badannya dibanding orang dewasa.

Bayi di Bawah Dua Tahun Tidak Dianjurkan Bermasker

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan penggunaan masker memang perlu dipertimbangkan untuk melindungi anak dari paparan asap. Namun, ada pengecualian penting yang wajib diingat orang tua: masker tidak dianjurkan bagi bayi dan balita berusia di bawah dua tahun.

Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Fifi Sofiah, menjelaskan alasannya. Anak berusia di bawah dua tahun sulit menggunakan masker dengan benar, sehingga cara melindunginya yang paling aman adalah tetap berada di dalam rumah saat kabut asap terjadi. Perlindungan yang lebih ketat juga diperlukan b agi anak yang memiliki asma, alergi, maupun penyakit kronis lainnya.

Bayi baru lahir atau neonatus menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap paparan polusi udara. Karena itu, orang tua dengan bayi kecil perlu ekstra waspada setiap kali kualitas udara memburuk, sekalipun asapnya tampak tipis dari dalam rumah.

Patokan ISPU: Kapan Anak Boleh Keluar, Kapan Harus di Rumah

Agar keputusan tidak sekadar berdasarkan perasaan, IDAI mengajak orang tua memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayah tempat tinggal secara berkala. Informasi ini bisa dicek melalui kanal resmi pemerintah daerah maupun aplikasi pemantau kualitas udara sebelum anak beraktivitas di luar rumah.

Berikut panduan berdasarkan tingkat ISPU yang disampaikan IDAI:

  • ISPU 50 atau lebih: bayi berusia satu bulan ke bawah perlu perhatian khusus dan sebaiknya tidak bepergian ke luar rumah.
  • IS–U 101-199 (tidak sehat): bayi di bawah satu tahun harus tetap berada di dalam rumah, sementara penggunaan masker perlu dipertimbangkan bagi anak yang lebih besar bila harus beraktivitas di l uar ruangan.
  • ISPU 200 atau lebih (sangat tidak sehat): anak-anak, termasuk remaja dan pelajar, tidak boleh beraktivitas di luar rumah. Kondisi ini juga perlu menjadi pertimbangan penerapan pembelajaran jarak jauh, dan keluarga disarankan menyiapkan obat-obatan esensial di rumah.
  • ISPU di atas 300 (berbahaya): seluruh kelompok usia dianjurkan mengungsi ke lokasi aman dengan udara bersih.

Pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, IDAI juga merekomendasikan pertimbangan evakuasi ke lingkungan dengan udara bersih berdasarkan indikasi medis, terutama bagi neonatus, bayi, dan balita yang memiliki penyakit penyerta. Pemberian obat esensial dan suplementasi oksigen pun harus disesuaikan dengan indikasi medis, bukan dilakukan sembarangan.

Siapkan Satu Ruang Bersih di Rumah

Saat kabut asap datang, rumah tidak otomatis menjadi tempat yang aman bila udara luar terus masuk. IDAI menyarankan keluarga menyiapkan satu ruang bersih dengan akses jendela dan pintu yang terbatas. Ruangan ini menjadi tempat anak beristirahat dan bermain selama kualitas udara memburuk.

Orang tua juga dapat menggunakan alat pembersih udara portabel yang tidak menghasilkan ozon untuk membantu menjaga kualitas udara di ruangan tersebut. Bila menggunakan pendingin ruangan, atur agar tidak menarik udara dari luar ke dalam rumah; mode sirkulasi ulang udara atau ventilasi tertutup dapat digunakan ketika kabut asap terjadi.

Di sejumlah daerah, pemerintah daerah sempat mengalihkan pembelajaran ke rumah saat ISPU masuk kategori sangat tidak sehat, dengan jenjang PAUD dan SD menjadi prioritas perlindungan. Bila sekolah anak Ayah Bunda belum mengeluarkan kebijakan serupa, jangan ragu berkoordinasi dengan pihak sekolah dan mengikuti arahan dinas setempat.

Tanda Anak Perlu Segera Dibawa ke Fasilitas Kesehatan

Selama masa kabut asap, pantau kondisi anak dengan saksama. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan bila ia mengalami batuk yang tak kunjung reda, napas cepat atau sesak, bunyi mengi, demam, atau tampak sangat lemas. Anak dengan riwayat asma perlu dipantau lebih ketat, dan obat yang biasa digunakan sebaiknya selalu tersedia di rumah.

Di luar masa darurat asap, kebiasaan sederhana tetap penting: cukupi cairan anak, jaga asupan gizinya, dan pastikan ia tidur cukup agar daya tahan tubuhnya terjaga. Bila anak memiliki penyakit penyerta, konsultasikan rencana perlindungan selama kabut asap dengan dokter anak yang biasa me nanganinya.

Keputusan mengizinkan anak berangkat sekolah atau belajar dari rumah memang tidak selalu mudah, apalagi ketika orang tua juga harus bekerja. Namun dengan memantau ISPU setiap hari, menyiapkan ruang bersih di rumah, dan memahami kelompok anak yang paling rentan, Ayah Bunda sudah mengambil langkah nyata untuk melindungi buah hati dari bahaya asap yang tak terlihat.

Udara bersih adalah hak anak. Selama langit belum kembali biru, mari kita yang menjadi pelindung pertamanya di rumah.

Artikel ini disusun berdasarkan imbauan IDAI yang disampaikan dalam konferensi pers mengenai dampak asap karhutla terhadap anak pada 16 Oktober 2026, sebagaimana diberitakan Bloomberg Technoz, serta peringatan Kementerian Kesehatan mengenai risiko ISPA akibat asap karhutla. Untuk kondisi khusus anak, konsultasikan langsung ke dokter anak.

Posting Komentar untuk "Asap Karhutla Kembali, Anak Tetap Sekolah atau di Rumah? Ini Panduan IDAI Berdasarkan ISPU untuk Orang Tua"