Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kemendikdasmen dan UNESCO Luncurkan Panduan Keluarga untuk Anak di Era Digital: Ini Isinya untuk Orang Tua

Ibu

Anak zaman sekarang bisa mengoperasikan gawai jauh lebih cepat daripada orang tuanya. Sekali sentuh, video terbuka. Sekali geser, permainan dimulai. Namun, di balik kelancaran itu, ada pertanyaan yang semakin sering menghantui orang tua: apakah anak benar-benar memahami apa yang ia lihat, ia bagikan, dan ia percayai di dunia digital?

Kabar baiknya, kini ada panduan yang dibuat khusus untuk keluarga. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama UNESCO dan Yayasan AIERA meluncurkan panduan keluarga edisi bahasa Indonesia bertajuk Growing Up in a Connected World: A Family Guide for the Digital Age. Peluncuran ini berlangsung di Jakarta pada 2 9 Oktober 2026, dalam rangka Pekan Literasi Media dan Informasi Global 2026.

Panduan ini dilansir dari laman Kemendikdasmen sebagai upaya memperkuat literasi media dan informasi, sekaligus membantu orang t ua mendampingi anak menghadapi tantangan di era digital. Panduan tersebut disusun bersama 37 pakar dari berbagai disiplin ilmu, agar arahannya praktis dan bisa dipakai keluarga sehari-hari.

Apa saja isi panduan keluarga ini?

Panduan ini memuat materi yang dekat dengan keseharian anak sekolah, antara lain:

  • Kebiasaan digital yang sehat, agar gawai tidak menguasai waktu belajar, tidur, dan bermain anak.
  • Perlindungan privasi, termasuk menjaga data pribadi dan memahami jejak digital yang tertinggal di internet.
  • Disinformasi dan hoaks, agar anak tidak mudah menerima dan menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.
  • Perundungan siber, termasuk cara bersikap dan mencari bantuan saat anak mengalami atau menyaksikan perundungan di ruang digital.
  • Komunikasi terbuka adalah kuncinya

    Dalam banyak kasus, anak tidak bercerita bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena ia takut dimarahi atau gawainya disita. Karena itu, suasana rumah yang aman untuk bercerita menjadi fondasi literasi digital. Saat anak mengaku melihat konten yang membuatnya takut, bingung, atau malu, sambut ceritanya dengan tenang sebelum memberi nasihat.

    Kemendikdasmen sendiri juga mengingatkan pentingnya membiasakan anak memeriksa sumber dan konteks informasi. Informasi lama yang kembali beredar di media sosial berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila tidak diverifikasi terlebih dahulu. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya disinformasi dan hoaks, Kemendikdasmen melakukan advokasi dan edukasi melalui akun Instagram Jaga Pendidikan.

    Dalam kegiatan Diskusi Nasional dan Lokakarya di Kantor Kemendikdasmen pada 29 Oktober 2026, disampaikan pula metode pembelajaran terbimbing atau guided learning: siswa didorong menemukan jawaban melalui proses berpikir dengan panduan, bukan sekadar menerima jawaban secara langsung. Cara ini juga bisa diterapkan orang tua di rumah.

    Pada akhirnya, dunia digital anak dijaga dengan kehadiran orang tua yang mau mendengarkan, kebiasaan memeriksa sebelum percaya, dan keberanian anak untuk bercerita saat ada yang tidak beres. Panduan keluarga dari Kemendikdasmen dan UNESCO ini bisa menjadi pegangan awal yang baik bagi keluarga Indonesia.

    Rincian resmi mengenai panduan ini mengikuti pengumuman Kemendikdasmen dan UNESCO. Orang tua yang ingin mendalami materinya dapat memantau informasi lanjutan melalui kanal resmi Kemendikdasmen.

Posting Komentar untuk "Kemendikdasmen dan UNESCO Luncurkan Panduan Keluarga untuk Anak di Era Digital: Ini Isinya untuk Orang Tua"