Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Musim Hujan Tiba, Kemenkes Catat 362 Ribu Kasus DBD: Ini Tanda Bahaya pada Anak yang Wajib Dikenali Orang Tua

Seorang ibu memeriksa dahi anaknya yang demam di rumah saat musim hujan, dengan kelambu di latar belakang

Musim hujan 2026/2027 sudah dimulai pada November ini, dan satu penyakit ikut mengintai di balik genangan air: demam berdarah dengue (DBD). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 362.497 kasus DBD sepanjang Januari hingga Oktober 2026, dan meminta masyarakat tetap waspada karena kasus berpotensi meningkat saat musim hujan. Bagi orang tua yang anaknya masih sekolah, kewaspadaan ini bukan sekadar imbauan. Anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus, karena DBD pada anak bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan bahwa puncak kasus pada 2026 terjadi pada minggu ke-38 dengan jumlah sekitar 10.500 kasus. Hingga Oktober 2026, kasus suspek dengue terbanyak tercatat di Jawa Barat dengan 74.688 kasus, disusul Jawa Timur sebanyak 49.987 kasus dan Jawa Tengah sebanyak 45.171 kasus. "Kewaspadaan tetap harus dilakukan karena tren akan meningkat di musim hujan seperti pada awal tahun," ujarnya di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Pesan ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim hujan 2026/2027 berlangsung mulai November 2026 dan mencapai puncaknya pada Desember 2026. Genangan air yang muncul bersama hujan menjadi tempat nyamuk Aedes aegypti berkembang biak, sehingga risiko penularan ikut naik.

Demam di Musim Hujan Jangan Langsung Dianggap Flu

Dokter spesialis anak Rumah Sakit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Aisya Fikritama Aditya, mengingatkan orang tua agar tidak langsung menyimpulkan anak terkena flu ketika demam di musim hujan. Demam pada anak tidak selalu disebabkan influenza, tetapi juga bisa menjadi gejala DBD atau infeksi lainnya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan orang tua membawa anak berobat ke fasilitas kesehatan bila demam berlangsung lebih dari 3 hari dan tidak turun setelah pemberian obat penurun panas. Pada penderita DBD, pemantauan terus-menerus sangat penting, terutama pada fase kritis, yaitu saat demam mulai turun. Pemeriksaan darah pada anak dengan demam sebaiknya dilakukan paling tidak pada hari ke-3 sampai ke-4 sejak demam muncul, meliputi hemoglobin, hematokrit, trombosit, leukosit, dan hitung jenis.

Tanda Bahaya yang Wajib Dikenali Orang Tua

Kemenkes mengingatkan sejumlah gejala yang harus diwaspadai, antara lain demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, hingga penurunan kesadaran. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat bila muncul salah satu tanda berikut:

  • Nyeri perut yang makin hebat dan menetap, terutama saat demam mulai turun.
  • Muntah terus-menerus atau anak tampak sangat lemas dan kurang aktif dari biasa nya.
  • Perdarahan, misalnya mimisan, gusi berdarah, atau bintik merah di kulit.
  • Sesak napas, penurunan kesadaran, atau kejang.
  • Tanda dehidrasi, seperti bibir kering, jarang buang air kecil, dan anak tampak lesu.

Yang paling sering menjebak orang tua adalah fase saat demam turun. Banyak yang mengira anak sudah sembuh, padahal fase kritis DBD justru dimulai sekitar hari ke-3 sampai ke-7 sakit, saat demam mereda. Pada fase inilah kondisi anak pe rlu dipantau paling ketat.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah

Sebelum dan selama anak sakit, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah. Pertama, berantas sarang nyamuk lewat gerakan 3M: menguras bak air secara rutin, menutup tempat penampungan air, dan mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air. Periksa juga jentik nyamuk di bak mandi dan wadah air lainnya.

Kedua, lindungi anak dari gigitan nyamuk dengan kelambu saat tidur dan losion antinyamuk, terutama pada pagi dan sore hari saat nyamuk Aedes aegypti aktif menggigit. Ketiga, pastikan anak cukup minum dan istirahat, serta pantau suhu dan kondisinya dari hari ke hari. Bila anak demam, jangan menunda ke puskesmas atau klinik, apalagi bila ada tetangga atau teman sekelas yang sedang terkena DBD.

Musim hujan masih panjang hingga puncaknya pada Desember nanti. Dengan mengenali tanda bahaya sejak dini dan menjaga lingkungan rumah bebas jentik, orang tua bisa melindungi anak dari risiko terburuk DBD. Bila ragu dengan kondisi anak, fasilitas kesehatan terdekat adalah tempat yang tepat untuk memastikan, bukan menunggu sampai tanda bahaya muncul.

Artikel ini disusun berdasarkan pernyataan Kementerian Kesehatan yang diberitakan pada 2 November 2026, panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia tentang kewaspadaan DBD, dan prediksi musim hujan BMKG. Untuk kondisi khusus anak, konsultasikan langsung ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

Posting Komentar untuk "Musim Hujan Tiba, Kemenkes Catat 362 Ribu Kasus DBD: Ini Tanda Bahaya pada Anak yang Wajib Dikenali Orang Tua"